Sudahkah aku jujur pada diriku sendiri, ingin aku katakan hal yang sesungguhnya.Yang kulakukan sekarang hanyalah memberi tahu hal yang ingin dia dengar bukan hal yang sesungguhnya.Walaupun kenyataan bertentangan.
Seperti ketika seperti seorang anak kecil yang menghujani orang tuanya dengan pertanyaan “bagaimana aku bisa ada?” atau mungkin seperti kisruh Bank Century yang baru-baru ini terjadi, pemerintah hanya memberi jawaban yang ingin rakyat dengar.
Apakah itu mendidik? Haruskah aku berkata yang sejujurnya? Akankah dia siap menerima jawaban pahit yang kuberikan tentang OBSESInya itu? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu terbesit dihatiku.
Pengecutkah aku ? Atau aku hanya salah satu korban perasaan yang dinamakan “cinta”? Definisi cintapun masih gamang bagiku, ada yang bilang cinta itu tidak harus memiliki,
Bagiku definisi cinta seperti itu terlalu munafik, aku sudah mencoba mempraktekan ilmu cinta tersebut. Yang katanya bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain.Tapi pada kenyataannya aku merasakan sakit yang teramat ketika orang yang kucintai bercerita dengan sangat exicited tentang orang yang dikaguminya.

0 comments:
Post a Comment